Tatap Muka 3

4. Peran Serta Budaya Politik Partisipan

a. Sikap Positif terhadap Budaya Politik

Dalam studi yang dilakukan oleh Almond dan Verba, ditemukan bahwa negara-negara yang mempunyai budaya politik yang sudah matang akan menopang demokrasi yang stabil. Sebaliknya, negara-negara yang memiliki derajat budaya politik yang belum matang tidak mendukung terwujudnya demokrasi yang stabil. Kematangan budaya politik tersebut ditunjukkan dengan besarnya peluang yang diberikan oleh negara kepada masyarakat untuk mandiri, sehingga memiliki kompetensi politik yang tinggi.

Dalam suatu masyarakat, di mana sebagian besar warga masyarakatnya memiliki kompetensi politik yang tinggi akan membentuk budaya politik partisipan atau demokratis. Mereka mampu menjalankan peran politiknya secara aktif melalui berbagai kegiatan politik. Mereka merupakan anggota aktif organisasi kemasyarakatan atau partai politik, atau anggota masyarakat biasa yang mampu menilai dengan penuh kesadaran mengenai sistem politik yang sedang berjalan, mampu memberi masukan untuk kebijakan pemerintah, serta mampu meraih posisi politik sesuai dengan keinginan.

Seperti telah diuraikan terdahulu, bahwa pembentukan budaya partisipan hanya dapat diciptakan setelah melalui proses sosialisasi politik yang dapat mewariskan berbagai nilai politik dari satu generasi ke generasi berikutnya, dapat melalui berbagai agen seperti keluarga, teman sepergaulan, sekolah atau perguruan tinggi, partai politik, dan media massa yang menghasilkan individu mandiri.

Kepribadian dan kesadaran individu juga merupakan penentu bagi seseorang untuk mampu melaksanakan aktivitas politiknya secara mandiri. Kesadaran individu ini berkaitan erat dengan hasrat dan minat yang kuat untuk ikut berperan dalam kehidupan politik, sehingga dengan berbagai cara dan upaya ia akan meningkatkan ilmu dan keterampilannya serta menambah pengalaman politiknya dengan melibatkan diri secara aktif ke dalam kancah politik. Tanpa kesadaran politik yang tinggi dan niat yang kuat, mungkin seorang individu cukup puas dengan peran politik yang pasif.

Banyak orang-orang yang menganggap bahwa dunia politik itu kotor, licik, penuh dengan muslihat dan kekerasan. Hal ini disebabkan pemahaman dan pengetahuan mengenai kehidupan politik masih sangat sempit, juga terdapat fakta sering adanya kekerasan dalam perebutan pengaruh dan kekuasaan politik. Kondisi yang demikian menunjukkan rendahnya budaya politik masyarakat, sehingga praktik-praktik politik yang diperankan oleh para tokoh politik kadangkala menimbulkan penilaian dan citra negatif. Masyarakat cenderung beranggapan bahwa untuk memperebutkan suatu posisi politik atau untuk mencapai tujuan politik boleh menghalalkan segala cara, sehingga bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Sebagai generasi muda yang terpelajar, sudah sewajarnya apabila para pemuda memiliki sikap dan pandangan yang positif terhadap budaya politik yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang sedang bergulir menuju budaya politik yang demokratis. Hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari, memahami, bersikap kritis dan demokratis terhadap perkembangan budaya politik masyarakat Indonesia, sehingga pada saatnya nanti akan mampu berperan dalam kancah politik yang lebih luas, dengan sikap dan budaya politik yang lebih mapan.

b. Kemampuan Berperan Serta dalam Budaya Politik Partisipan

Sebagai warga masyarakat dan warga negara sudah selayaknya kita ikut serta membangun budaya politik partisipan agar mampu mewujudkan masyarakat demokratis yang stabil. Sebagai generasi penerus bangsa, generasi muda perlu memupuk kesadaran untuk belajar dan berlatih sesuai dengan tingkat dan kemampuan dalam berbagai kegiatan politik di lingkungan masing-masing, misalnya, peran serta di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan negara.  Peran serta dalam budaya politik partisipan, tidak dapat muncul secara instan tetapi melalui proses yang panjang melalui sosialisasi sejak kanak-kanak, sampai dewasa bahkan sampai tua di lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.

1. Peran Serta Budaya Politik Partisipan dalam Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan masyarakat yang terkecil, di mana seorang anak sebagai anggota keluarga belajar dan berlatih untuk memahami dan menghayati nilai, norma dan pola perilaku melalui pendidikan awal dalam proses sosialisasi politik. Peran serta budaya politik partisipan dapat dilakukan dengan memahami dan menghormati kedudukan semua anggota keluarga, baik kedudukan ayah, ibu, serta anak-anaknya. Misalnya, menghormati peran ayah sebagai kepala keluarga sesuai dengan kedudukan, kewenangan, fungsi dan tanggung jawabnya.

Sebagai seorang anak, baik dalam posisi sebagai kakak atau adik, wajib memahami hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan pola perilaku keluarga dan masyarakat. Peran serta budaya politik partisipan dalam keluarga, misalnya ikut memberi masukan dalam pengambilan keputusan keluarga secara musyawarah. Apabila peran serta budaya politik partisipan ini dapat berlangsung dengan baik dalam suasana budaya yang demokratis maka sikap dan perilaku dalam keluarga akan mendasari sikap dan perilaku di lingkungan yang lebih luas.

Negara Republik Indonesia telah mengeluarkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban individu dalam keluarga, misalnya Undang-Undang Perkawinan, Undang-Undang tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang tentang Perlindungan terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga. Semua peraturan perundangan ini wajib ditaati oleh semua warga negara atau warga masyarakat demi ketenteraman, keamanan, dan kebahagiaan semua anggota keluarga.

Apabila semua anggota keluarga dapat menerapkan budaya politik partisipan atau demokratis, niscaya kehidupan keluarga akan tenteram dan bahagia, namun sebaliknya apabila masing-masing anggota keluarga bersikap dan berperilaku tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada maka akan muncul konflik yang berakibat hancurnya ketenteraman keluarga.

2. Peran Serta Budaya Politik Partisipan dalam Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan, di mana para siswa belajar dan berlatih berbagai macam ilmu, keterampilan, nilai, dan norma yang akan membekali kehidupan masa depan. Di sekolah, peserta didik akan beradaptasi dengan lingkungan sekolah, baik dengan guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, teman sekelas, kakak kelas, maupun adik kelas. Peserta didik akan menemukan pengalaman-pengalaman baru yang lebih luas untuk mendukung budaya politik partisipan.

(Peran serta politik dalam sekolah dapat diwujudkan dalam pemilihan pengurus OSIS secara langsung)

Peran serta budaya politik partisipan di lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata tertib atau peraturan-peraturan sekolah.

Peran serta budaya politik partisipan yang lebih nyata, dapat diwujudkan dalam kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Setiap tahun akan diadakan pemilihan pengurus OSIS secara langsung dan demokratis. Sebagai warga sekolah yang baik, semua peserta didik wajib ikut secara aktif mengikuti seluruh kegiatan ini, mulai dari proses pencalonan, proses seleksi, kampanye, penyampaian visi dan misi, sampai dengan pemungutan suara dan perhitungan suara. Para siswa dapat berperan aktif mengembangkan budaya politik partisipan dengan cara mencalonkan diri sebagai pengurus OSIS, sebagai tim seleksi, tim sukses, mempersiapkan dan mengikuti kampanye, mendengarkan dan menanggapi penyampaian visi dan misi atau mengikuti debat antarkandidat, memberikan dukungan suara dalam pemungutan suara, serta menyaksikan perhitungan suara dan pelantikan pengurus OSIS yang terpilih. Para siswa juga dapat memberikan masukan, usul, saran atau kritik yang membangun untuk kemajuan kegiatan OSIS dalam rangka penyusunan dan pelaksanaan program-program OSIS di sekolah masing-masing. Demikian pula halnya dalam kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus. Mahasiswa sangat diharapkan untuk berperan serta dalam pengembangan politik yang demokratis untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Peran serta budaya politik partisipan ini merupakan proses sosialisasi politik yang memberikan pengalaman berharga bagi generasi muda dalam rangka pengembangan budaya politik di masa datang dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas, misalnya di lingkungan kabupaten atau kota, provinsi, negara nasional maupun internasional.

3. Peran Serta Budaya Politik Partisipan di Lingkungan Masyarakat

Generasi muda dapat menerapkan budaya politik partisipan, baik di lingkungan masyarakat di sekitar tempat tinggal, misalnya di kampung atau desa, juga lembaga-lembaga kemasyarakatan yang lain. Sebagai warga masyarakat, para pemuda dapat ikut aktif dalam kegiatan karang taruna, remaja masjid, organisasi pemuda, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan organisasi kemasyarakatan yang lain.

Pada usia remaja sebagian besar pemuda menginginkan pengembangan jati diri dengan berbagai aktivitas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mengembangkan kemampuan di bidang politik, generasi muda dapat menyalurkan bakat dan minatnya sebagai partisipan atau simpatisan partai-partai politik, dan organisasi kemasyarakatan yang memiliki potensi dan kapasitas di bidang politik, misalnya sebagai pengurus atau anggota pemuda Muhammadiyah, pemuda ansor, nasyiatul aisyiah, pemuda marhaen, pemuda katolik, dan sebagainya. Sebagai aktivis sebuah organisasi, para pemuda akan banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi yang akan bermanfaat bagi pengembangan budaya politik partisipan.

4. Peran Serta Budaya Politik Partisipan dalam Pemerintahan Negara

Dalam negara demokrasi, setiap warga negara berhak menyampaikan aspirasinya untuk mendukung atau menolak kebijakan pemerintah. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk hak dan kewajiban di bidang politik.

Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa yang kelak akan menggantikan dan mengatur kehidupan politik negara dapat menerapkan budaya politik partisipan melalui pengalaman-pengalaman politik dalam kegiatan-kegiatan politik negara, misalnya menjadi anggota atau simpatisan partai politik, menyaksikan atau mengikuti debat politik antarelite politik melalui berbagai media, mengikuti kampanye pemilihan umum, memberikan suara dalam pemilihan umum untuk pemilihan bupati/walikota, anggota DPRD, DPR RI, dan presiden. Pada saatnya nanti, juga dapat mencalonkan diri sebagai ketua umum partai politik atau calon anggota lembaga legislatif maupun eksekutif. Generasi muda dapat secara kritis dan objektif menilai kebijakan-kebijakan pemerintah dengan memberi masukan, saran atau usul baik melalui tulisan di media massa, melalui lembaga legislatif, maupun melakukan unjuk rasa dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh undang-undang sesuai dengan nilai dan norma budaya masyarakat Indonesia.

(Warga negara dapat berpartisipasi dalam budaya politik, yaitu memberikan suara dalam pemilihan umum)

DAFTAR PUSTAKA

Suprapto, dkk. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Aksara.

Latihan Soal

Kerjakan di buku tugasmu, kemudian dikumpulkan secara kolektif di ketua kelas !

1. Kaitkan hubungan antara budaya dengan politik, deskripsikan menurut pendapat kalian !

2. Hal apa saja yang dapat diwujudkan dalam budaya politik di Indonesia ?

3. Deskripsikan pengertian budaya politik !

4. Mengapa kebudayaan selalu berkembang secara dinamis ?

5. Sebutkan tujuh unsur budaya universal !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s